Home » » Pendidikan dan Tantangan Globalisasi

Pendidikan dan Tantangan Globalisasi

Slb Am | 18.07.00 | 0 komentar

Pendidikan dan Tantangan Globalisasi

Jika kita setuju dengan tesis dari Samuel P.Huntington tentang Clash of Civilization, maka yang akan kita hadapi dengan istilah globalisasi adalah interaksi budaya global dengan sekat-sekat yang hampir tidak dapat membendungnya. Huntington menjadikan indentitas budaya dan peradaban sebagai persoalan penting dalam kehidupan manusia yang kini telah mengalami globalisasi. (Samuel P.Huntington dalam H.A.Malik Fajar, 2005: 170). Dalam wacana keindonesian, tesis Huntington ini perlu dicermati mengingat bahwa Indonesia adalah negara kepulauan dengan keragaman budaya dan masyarakat yang sangat kaya. Huntington menegaskan bahwa persoalan yang dihadapi adalah terjadinya konflik di sepanjang garis pemisah budaya (culture fault lines) . Dalam kasus Indonesia sering muncul dalam istilah “konflik berbau SARA”.
Setuju atau tidak setuju dengan tesis Huntington, kenyataan menunjukkan bahwa sebahagian tesis tesebut terbukti, dimana konflik-konflik horisontal sering muncul karena adanya diferensiasi budaya, sejarah dan bahkan agama. Khusus yang terakhir, Huntington, menurut Malik Fajar, percaya bahwa agama telah menimbulkan konflik selama berabad-abad . Masalahnya kemudian adalah bahwa arus utama globalisasi terkait sangat erat dengan budaya dan masyarakat. Lalu Apa yang harus dilakukan?
Persoalan real yang dihadapi oleh bangsa Indonesia adalah bagaimana membentuk karakter bangsa (Nation Character Building) yang kaya akan nilai-nilai kearifan lokal dan tradisional berhadapan dengan pusaran arus globalisasi yang demikian mengancam. Bagaimanapun juga khazanah keragaman budaya dan heterogenitas masyarakat Indonesia, di satu sisi merupakan keistimewaan namun di sisi lain menimbulkan kekhawatiran. Dalam diskursus pendidikan, hal tersebut harus dibahas, dan tidak dapat diabaikan begitu saja.


Landasan Sosiologis dalam Pendidikan

Pendidikan berlangsung dalam pergaulan antara pendidik dengan anak didik. Dapatnya anak didik bergaul karena memang; baik pendidik maupun anak didik adalah merupakan makhluk sosial,yaitu makhluk yang selalu saling berintegrasi, saling tolong menolong, salin gingin maju, ingin berkumpul, ingin menyesuaikan diri, hidup dalam kebersamaan dan lain sebagainya.
Sifat sebagai makhluk sosial sudah dimiliki sejak bayi, dan tampaknya merupakan potensi yang dibawa sejaklahir. Bahwa manusia merupakan makhluk sosial karena beberapa faktor berikut:
a. Sifat ketergantungan manusia dengan manusia lainnya
b. Sifat adaptability dan intelegensi

    Dengan demikian, manusia sebagai makhluk sosial, menjadikan sosiologi sebagai landasan bagi proses    dan   pelaksanaan pendidikan, karena memang karakteristik dasar manusia sebagai makhluk sosial akan berkembang dengan baik dan menghasilkan kebudayaan-kebudayaan yang bernilai serta peradaban tinggi melalui pendidikan.

D. Landasan Historis Pendidikan
     Nilai-nilai historis yang kemudian dijadikan sebagai landasan/dasar historis (sejarah) pendidikan, memiliki    makna bahwa peristiwa kemuanusiaan yang terjadi di masa lampau penuh dengan informasi-onformasi yang mengandung kejadian-kejadian, model-model, konsep-konsep, teori-teori, praktik-praktik moral, cita-cita, bentuk dan sebagainya. Informasi dari sebuah peristiwa di masa lampau tersebut, mengandung nilai muatan pendidikan yang dapat dicontoh dan dapat ditiru oleh genarasi masa kini dan masa yang akan datang.

E. Landasan Kultural
Nilai budaya yang kemudian dijadikan sebagai landasan /dasar kultural pendidikan, mengandung pengertian bahwa pendidikan itu selalu mengacu dan dipengaruhi oleh perkembangan budaya manusia sepanjang hidupnya. Budaya masa lalu berbeda dengan budaya masa kini, dan berbeda pula dengan budaya masa depan.
Ini berarti bahwa kebudayaan merupakan salah satu pijakan di dalam pendidikan yang berpengaruh terhadap proses pendidikan yang berlangsung. Sebaliknya pendidikan itu sendiri akan menghasilkan kebudayaan-kebudayaan baru yang menyebabkan berkembanganya kebudayaan yang ada. Dengan demikian terjadi hubungan timbal balik, di mana kebudayaan menjadi landasan pendidikan dan pendidikan mengarahkan pada berkembangnya kebudayaan yang baru.

F. Landasan Hukum Pendidikan
Nilai-nilai normatif di dalam pendidikan yang kemudian menjadi landasan/dasar hukum pendidikan adalah nilai-nilai yang tercantum dalam suatu msyarakat, bangsa dan negara. Nilai-nilai tersebut ada yang bersifat tertulis dalam sebuah konstitusi yang mengatur tentang pendidikan, seperti yang tersirat dalam UUD 1945, UU SISDIKNAS, Peraturan pemerintah, maupun yang bersifat konvensional tidak tertulis namun menjadi patokan norma di dalam kehidupan masyarakat, seperti adat istiadat, tradisi, fatwa-fatwa tokoh masyarakat dan lain sebagainya.

Share this article :

0 komentar:

DOWNLOADS BUKU

ABBASS »

KURIKULUM

RAKHMAT »
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. SLB Ananda Mandiri - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger